Senin, 26 Januari 2015

Teen Story

AKU, DIA DAN SEKOLAH

  Mungkin ini persoalan cinta yang sulit dan belum pernah aku alami. Kisah cinta antara guru dan murid. Kisah cinta dimana kisah ini berlanjut sampai ke jenjang pernikahan. Siapa sangka seorang guru dan seorang murid bisa bersama. Ini semua berawal dari sekolah tercintaku.

  Sebut saja namanya Adi, dan aku Achantya. Teman-teman sering memanggilku Acha. Saat itu aku naik kelas 2. Dan kelasku termasuk kelas paling bandel diseluruh jagat raya padahal semua anggota kelas adalah perempuan. Sampai-sampai guru-guru tidak pernah betah mengajar di kelasku. Pernah ada yang sampai pingsan, ada juga yang sampai masuk rumah sakit karena sakit jantung melihat muridnya berani melawan. Bagiku itu tidak masalah karena namanya juga remaja, aku harus menghabiskan waktu yang ku punya sebelum aku mulai ke jenjang lebih serius.

  Saat itu guru matematika ku, Bu Maha sudah tidak kuat mengajar di kelasku lagi. Akhirnya dengan segenap memohon, ia dipindahkan dari kelasku ke kelas yang lebih layak untuknya. Dan sebagai gantinya, ada guru baru yg baru saja luluh S2. Ketika pertama ia masuk, semua mata tertuju padanya. Badannya tinggi ideal, wajahnya lumayan, dan cara ia berjalan beda dari guru-guru yang lain. Aku menebak usianya tidak lebih dari 25 tahun. Setelah memperkenalkan diri, kami masih terpana akan cara mengajarnya. Maklum lah dikelasku semuanya adalah siswi. Sejujurnya, sejak pertama ia masuk ke kelasku aku menyukainya. Tapi karena aku pikir itu suka di awal saja, jadi aku acuh tak acuh.

  Seminggu telah berlalu. Semua murid membicarakannya. Mulai dari matanya, bibirnya, bentuk wajahnya, sampai-sampai aku mau muntah mendengar setiap kata-kata hiperbola itu. Aku duduk manis dibangku ku sambil mencorat-coret buku fisika yang sangat aku benci. Dan tiba saatnya jam pelajaran pak Adi. Menurutku dia memang menjelaskannya dengan santai dan sabar. Aku heran, kenapa hanya di jam pak Adi semua hening dan damai? tak seperti biasanya. Ketika aku melihat sekeliling, mata dari siswi di kelasku berbinar layaknya ada bintang di kedua bola matanya. Aku hanya bisa memukul jidatku di meja.

  2 bulan telah terlewati. Kelasku yang dulu di cap menjadi kelas terbandel sudah hilang. Tapi, mungkin bisa di cap menjadi kelas terganjen. Jujur saja, ada sedikit rasa cemburu didalam hati ketika melihat teman-temanku mendekati pak Adi. Tapi aku tetap acuh tak acuh. Aku juga merasakan ada yang berubah dalam diriku. Entah sejak kapan aku mulai bersahabat dengan buku-buku dirumah dan juga aku mulai sering mampir di toko buku ataupun kafe untuk sekedar membaca buku sambil meminum caffelatte. Waktu itu aku sedang nongkrong di kafe tempat biasa. Saat itu tak sengaja aku bertemu pak Adi di kafe yang sama. Dia datang menghampiriku.
"Acha, tumben kamu disini" sapa pak Adi kepadaku.
"Acha sudah biasa nongkrong disini pak" kataku.
"Boleh saya duduk disini, soalnya tempatnya sudah penuh" katanya.
Aku membalas dengan senyuman. Lalu sekilas aku melihat minuman yang dipesannya. Caffelatte sama seperti pesananku. Dari sanalah kami mulai berbincang-bincang. Mulai dari keluarga, kehidupannya dia saat masa-masa sekolah, bahkan sampai soal percintaan. Hujan turun pun tak terasa. hampir 1 jam kami berbicara tanpa memperhatikan sekitar. Tanpa kusadari, pak Adi meminta nomor teleponku dan entah aku sadar atau tidak aku memberikannya tanpa ada hambatan. Sesampainya dirumah, aku baru menyadari semua itu. Aku berlari kekamar dan berteriak tidak jelas ketika sebuah pesan masuk ke ponselku. Pesan dari pak Adi yang membuat aku melayang tinggi. Entah kenapa aku merasakan perasaan yang campur aduk seperti ini. Sampai-sampai malam tiba aku tidak bisa tidur karena ditemani dalam telepon olehnya.

  Esoknya aku pergi ke sekolah dengan wajah berseri. Pas sekali saat itu ada jam pelajaran fisika. Aku jadi bersemangat belajar meskipun aku tidak menyukai pelajaran itu. Wajah pak Adi ketika mengobrol di kafe masih terngiang di pikiranku. Aku ingin cepat-cepat pulang kerumah agar bisa ditemani lagi.

  Singkat cerita, sudah hampir 2 bulan aku dan pak Adi dekat layaknya gebetan. kami sering bertemu di kafe kadang-kadang juga di tempat lain. Hingga akhirnya hubungan itu pun ada diantara kami. Tapi kami masih menyembunyikannya, karena kami tau ini semua sangat mustahil. Satu tahun berjalan dengan lancar, tanpa satu orang pun yang mengetahuinya. Hingga suatu hari ada seorang temanku yang mengetahuinya. Dia merasa sakit hati karena pak Adi milikku. Perbuatan ini ingin ia laporkan kepada kepala sekolah. Aku mencegahnya, ia berusaha kabur dari kejaranku. Aku dan dia saling kejar-kejaran di lorong, menabrak setiap orang di lorong.
"Cantika, tunggu !!!" seruku dibelakangnya.
  Akhirnya aku berhasil menarik lengan bajunya. Dan pengejaranku berakhir di sebuah ruangan yang jaraknya tidak jauh dari kantor kepala sekolah.
"Cantika, aku mohon. Jangan laporkan aku" kataku memelas padanya.
"Acha, apa kamu tahu bagaimana perasaanku pada pak Adi? Aku menyukainya! Bahkan aku mencintainya! Aku mengangguminya! Aku berusaha menajdi perempuan yang sempurna didepannya, tapi dia lebih memilihmu! Aku kecewa!" jeritnya di depan wajahku.
  Aku meneteskan air mata.
"Cantika, kamu memang mencintainya. Aku akui cintamu kepadanya jauh lebih besar dariku. Tapi bisakah kamu merasakan posisiku? Aku tau ini benar-benar terlarang antara guru dan murid. Tapi bisakah kamu tau bagaimana rasanya mencintai seseorang? Kamu pasti akan melakukan apa saja demi dia, aku tahu itu" kataku sambil menangis.
  Cantika hanya terdiam, dan pak Adi tiba-tiba datang dari dibelakang. Pak Adi menarikku. Aku bisa melihat wajah kebencian dari Cantika, tapi kemudian kusadari ia menangis melihatku pergi bersama pak Adi. Aku dan pak Adi pergi ke gudang belakang. di gudang itu sepi jadi aku tidak khawatir akan kedatangan orang.
"Kamu kenapa menangis dihadapan orang yang tidak berperasaan itu?! Aku malu melihat kamu seperti itu" katanya.
  Aku hanya terdiam.
"Aku sudah pikirkan baik-baik. Demi hubungan kita dan juga kenyamananku. Aku sebenarnya tidak nyaman disini, karena banyak peraturan yang tidak aku suka. Jadi aku putuskan nesok untuk pindah kerja. Aku bisa kerja dimana saja, jadi kamu tidak usah khawatir. Aku mohon sama kamu jangan lakukan hal seperti itu lagi" katanya.
  Lalu ia memelukku erat. Aku menangis kencang dipelukkannya. Dia mengelus rambutku. Mungkin ini adalah kabar terbaik untukku, tapi sekaligus juga yang terburuk. Mungkin sudah tidak ada lagi wajahnya yg melintas di jendela. Tidak ada lagi wajahnya yang sedang mengajarku. Tapi aku rasa ini yang terbaik.

  Esoknya, pak Adi pergi ke kantor kepala seolah dan memberikan surat pengunduran diri. 1 kelas bersedih karena kepergiannya. Begitu pula Cantika. Sejak pagi ia tak kelihatan bersemangat. Aku ikut sedih, tapi mau bagaimana lagi. Aku dan pak Adi masih tetap bersama, meskipun sudah tak 1 sekolah lagi. Meskipun kami sudah tak saling memandang dikelas, saling tanya jawab dan lain-lain, aku tetap masih bisa melihatnya di tempat lain.

  Tiba saatnya aku masuk ke universitas. Aku dan teman-temanku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Aku juga mendapatkan universitas dengan jurusan yang aku inginkan. Kini kami sudah tak terikat apapun. Kami sudah mulai mempublikasikannya ke semua orang. Kami sering jalan bersama diantara kerumunan orang. Cantika kini sudah membaik. Ia mendapatkan seseorang yang lebih baik dari pak Adi. Aku turut bahagia atas bahagianya.

  Setelah lulus, aku mendapatkan tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan swasta. Gajinya lumayan untuk membahagiakan orang tuaku. Setelah sekian lama aku dan pak Adi bersama, akhirnya ia melamarku didepan orangtuaku. Tentu saja aku menerimanya. Terpaut usia 10 tahun, tidak menjadi masalah dalam hubungan kami. Sekarang genap sudah usia pernikahan ke 5. Aku dan dia dikaruniai 2 orang anak. Kami hidup sangat berkecukupan. Aku dan dia bukan lagi pasangan murid dan guru. Aku juga tidak memanggilnya pak Adi lagi. Tapi panggilanku kepadanya kini menjadi Mas Adi.

Rabu, 13 November 2013

D.P.

First Month
setiap orang yang jadian pasti gak sabaran nunggu first month-nya mereka. gue juga gitu, tapi lebih nyakitin. tanggal 6 oktober 2013 aku jadian sama temen gue sebut aja Dendi. gue sayang banget sama Dendi, tapi hubungan gue sama dia gak berlangsung lama. cuma 1 bulan doang. tapi itu gak membuat rasa sayang gue ke dia ilang. cuma gue nya yang gatau dia masih sayang gak sama aku.
hari pertama jadian, itu rasanya berbunga-bunga. seakan-akan  lo itu cewek paling cantik di Indonesia bahkan sedunia. gue sama dendi udah kenal lama dan gue kenal dia dari sahabat gue. sahabat gue tu pernah pacaran juga sama Dendi, tapi gak lama. dan saat gue jadian sama dia, gue berharap banget langgeng sama dia. dan dia juga gitu. tapi nyatanya gue putus nyambung mulu sama dia.
awalnya dia romantis banget. dia juga perhatian sama gue. gue bahagia banget diperlakuin kayak gini sama dia. pokoknya gak ada cowok laen yang nyangkut dihati gue cuma dia doang. tapi semakin lama dendi semakin cuek. gue gatau kenapa.dan akhirnya gue buka facebook dan liat temen-temen gue di beranda. ada 1 status yang buat gue nyesek banget. statusnya itu nyangkut pautin dendi. gue tanya sama dendi, tapi dia malah gak jawab. gue marah banget sama dia karna dia gak jujur sama gue. akhirnya gue putusin buat break dulu, dan gue pengen dia renungin kesalahannya dia. sampe 1 minggu gue gak sms-an sama dendi. hari-hari gue kosong banget. gue kesepian. tapi gue merasa lebih kesepian waktu gue sama dendi. akhirnya seminggu kemudian gue di chat sama dendi di facebook. gue nunjukin simbol sedih. gue tanya "kenapa? udah ada jawaban maksud statusnya tu ?". dia jawab, " sebenernya pas kita dapet putus dulu, aku dapet pacaran sama dia. tapi gak lama. akhirnya kita berdua putus karena aku nyuekin dia. aku juga masih sayang banget sama kamu waktu tu". gue nyesek banget denger dia ngomong gitu. pengen rasanya gue banting pintu trus gue gigitin dah tu pintu. tapi gue sabar. gue gak mau berantem lagi sama dia. gue juga sayang banget sama dia. akhirnya kita baikan lagi.
gak lama setelah itu, cewek yang buatin dendi status dulu itu buat status. isinya pokoknya jelek-jelekin gue sama dendi. akhirnya gue berantem sama dia. gue kasi tau dendi gak peduli sama cewek tu. akhirnya cewek tu udah gak berkomentar lagi tentang hubungan gue sama dendi. gue lagi jalanin hari-hari gue sama dendi. tapi gue terus terngiang-ngiang sama tu cewek. gue takut dia malah berulah lagi dan buat gue putus sama dendi lagi. gue selalu nyalahin dendi karena kesalahannya dia yang jadian sama ceweknya tu. setiap hari gue gak pernah absen buat bilang kesalahannya dendi. dan akhirnya dendi marah banget smaa gue karena gue selalu nyalahin dia. itu memang kenyataan. gue aja gak secepat itu dapet pacar, tapi dia ? nyesek banget pokoknya dia tu.
tiba waktunya first month gue sama dendi. dendi udah mulai romantis lagi. karna mungkin mau ngasi first month yang gak bakal dilupain. tapi sehari sebelum first month, gue berantem lagi sama dia. tapi gue ngalah aja soalnya gue gak mau ngerusak acara first moth gue sama dia. besoknya gue keluar jalan-jalan sama dendi. dan gue bercanda terus sama dia. gue seneng banget hari itu. tapi gak lama setelah itu, dia kembali cuek sama gue. gue kesel, tiap hari dia gue marahin mulu. sms jarang, nelfun gak pernah. gue makin kesel. gue tahan rasa nyesek gue, gue pengen bertahan dikit lagi, sapa tau aja dia mau berubah kayak dulu. setiap dendi perlu bantuan gue selalu bantu dia. meskipun gue yang bakal rugi. tapi dia bakal baik sama gue, ketika dia perlu bantuan doang. coba kalo enggak, sms pun gak bakal inget deh!
akhirnya gue udah gak tahan nahan sakitnya. temen-temen gue juga nyuruh gue putusin dia. gue coba cuek balik sama dia. eh, malah dia ikut-ikutan cuek. gue udah nangis mulu baca sms-nya dia yang singkat, padat dan jelas itu. akhirnya gue putusin dia. dan awalnya dia gak ngerespon. gue makin marah, hingga pada akhirnya gue mutusin buat pergi dari dia. sulit rasanya bagi gue buat ngelupain hari-hari yang udah gue laluin sma dia. tapi gue takut bakal terus-terusan nyesek gara-gara mikirin sikapnya dia. gue gak tau, apa emang dari lahir dia cuek gitu. 1 hal yang gak bakal gue lupain. dia janji sama gue dia gak bakal nakal, nurut sama gue dan terus setia sama gue. tapi gue gak nyangka hubungan gue sama dia cuma sampe first month aja. meskipun gitu, gue gak pernah ngerubah rasa sayang gue yang udah terlanjur gue kasi ke dia. karna itu satu-satunya yang bisa buat gue inget sama dia meski[pun dia gak inget sama gue.

Minggu, 10 November 2013

Natalku

Kehidupanku

aku bukanlah seorang yang hebat, tapi aku hanyalah seorang yang mampu. ketika badai datang, aku mampu untuk menahannya. namun ketika kau yang datang, aku tak sanggup untuk terlalu lama menahannya. kau yang ajari aku betapa indahnya hidup. sehingga aku tenggelam didalamnya. aku pun percaya ini semua adalah keajaiban. keajaiban natal yang aku rasakan.
dihari pertama, kau datang kerumahku dengan membawa kue. hari itu hari ulang tahunku. kau orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku. aku berdoa, dan meniup lilin kecil yang kau sediakan untukku. waktu semakin dingin, kita putuskan untuk membuat coklat panas terenak didunia. dengan canda tawamu, cairan coklat meleleh di pipiku. dan kau mengusapnya dengan sapu tanganmu. hari yang berkesan bagi.

hari kedua, kau datang kerumahku dengan membawa hiasan natal. kita pergi ke super market untuk membeli sebuah pohon natal yang besar. disana kita bertemu dengan santa klaus, dan meminta beberapa pengharapan. aku meminta agar setiap natal selalu seerti ini. kau dan aku, slalu bersama.

hari ketiga, 4 hari lagi natal akan tiba. perlu banyak waktu mempersiapkan natal yang begitu berbeda. aku sampai kehabisan ide untuk membuat sesuatu. lalu kau memberiku ide. kau mengambil mangkuk, gula, perwarna, dan sendok. aku tak tau apa yang mau kau berikan padaku. Permen ! kau berkata padaku saat aku bingung dengan apa yang kau lakukan. "Permen ini akan aku gantung disetiap dahan dipohon natal, lalu aku akan menyisakan beberapa batang untuk santa klaus. dan aku akan membuat yang paling besar untukmu". rasa sesak didada begitu sangat. apakah ini pertanda bahwa kau juga menyukaiku?

dihari keempat, ada saja kejutan yang kau berikan padaku. kau membawa seekor anak anjing siberian husky. "Ini untuk menemanimu ketika kau merasa kesepian" aku tersenyum. kita berdua bercanda tawa melihat kekonyolan yang dilakukan oleh anak anjing itu. kita menamakannya Lufi

hari kelima, kau datang telat kerumahku. padahal kau janji jam 08.00 pagi mengajakku jalan-jalan ke taman bersama Lufi. ketika kulihat kau datang, aku begitu marah. namun kau membawakanku sebatang eskrim rasa pisang yang kau buat sendiri. aku tersenyum, dan kita jalan sambil berpegangan tangan. aku merasakan tanganmu begitu dingin dari tanganku. atau aku hanya berperasaan saja. mungkin salju begitu dingin, dan juga sarung tanganmu kau gunakan untuk menyelimuti jemari tanganku. aku memelukmu hingga aku merasakan seluruh tubuhmu dingin. saat-saat yang begitu romantis. kau mengatakan bahwa kau menyukaiku. namun kau tidak menanyakanku apakah aku mau hidup bersamamu. kau hanya diam. lalu kau berkata "Aku tak pantas untukmu Merry. aku takut, ketika kita bersama ada saja yang akan membuatmu sedih". aku hanya mengangguk lemas

hari keenam, kau tidak mengabariku. aku cemas dan takut terjadi sesuatu padamu. aku hanya ditemani oleh Lufi dirumah. aku menelepon kerumahmu, tapi tidak kau angkat. aku merasa sepi. kuputuskan membeli beberaa cemilan di toko. langkahku hanya ditemani seekor anak anjing yang kau berikan padaku. jadi ini mungkin yang maksud dengan kesepian. aku terus menatap Lufi. aku takut setelah ini aku akan kehilangan Lufi juga. setelah pulang dari toko, aku memutuskan untuk pergi kerumahmu. kulihat orang-orang mengerumuni apartemenmu. aku bertanya dengan orang-orang namun tak ada jawaban. aku seperti minyak dalam air. tak ada yang meresponku. aku masuk ke apartemenmu. kosong. barang-barangmu sudah tak ada. lalu seorang gadis berkata padaku "Gilbert meninggal kemarin malam karena gagal jantung. ia menitipkan ini padaku. katanya kau sangat menyukai permen. dia tau bahwa sebelum natal ia akan mengakhiri masa hidupnya. ia begitu menyukaimu hingga ia mau menahan rasa sakitnya hingga natal menjelang". gadis itu memberiku setoples permen. aku menangis. Lufi datang menemaniku di depan apartemen Gilbert. ternyata ini yang dia maksu membuatku sedih. tapi kenapa harus seperti ini ?!

hari ketujuh tiba, natal datang disetiap wajah orang-orang. aku hanya diam dirumah bersama Lufi. aku bangun dari tempat tidurku dan melihat pohon natal yang aku buat bersama kau. aku menangis. tetapi menangis bahagia. aku bahagia karena telah melayani sisa hidupmu dan aku bahagia karena aku mencintaimu. hingga siang pun datang aku memutuskan membuat permen dalam jumlah banyak. aku ingin membagikan manisnya naal ke setiap orang. dan juga dengan kau yang ada disana. di permenmu aku menuliskan namaku dan dipermenku aku menuliskan namamu. begitu bahagia hingga aku tenggelam dalam cintamu itu.