AKU, DIA DAN SEKOLAH
Mungkin ini persoalan cinta yang sulit dan belum pernah aku alami. Kisah cinta antara guru dan murid. Kisah cinta dimana kisah ini berlanjut sampai ke jenjang pernikahan. Siapa sangka seorang guru dan seorang murid bisa bersama. Ini semua berawal dari sekolah tercintaku.
Sebut saja namanya Adi, dan aku Achantya. Teman-teman sering memanggilku Acha. Saat itu aku naik kelas 2. Dan kelasku termasuk kelas paling bandel diseluruh jagat raya padahal semua anggota kelas adalah perempuan. Sampai-sampai guru-guru tidak pernah betah mengajar di kelasku. Pernah ada yang sampai pingsan, ada juga yang sampai masuk rumah sakit karena sakit jantung melihat muridnya berani melawan. Bagiku itu tidak masalah karena namanya juga remaja, aku harus menghabiskan waktu yang ku punya sebelum aku mulai ke jenjang lebih serius.
Saat itu guru matematika ku, Bu Maha sudah tidak kuat mengajar di kelasku lagi. Akhirnya dengan segenap memohon, ia dipindahkan dari kelasku ke kelas yang lebih layak untuknya. Dan sebagai gantinya, ada guru baru yg baru saja luluh S2. Ketika pertama ia masuk, semua mata tertuju padanya. Badannya tinggi ideal, wajahnya lumayan, dan cara ia berjalan beda dari guru-guru yang lain. Aku menebak usianya tidak lebih dari 25 tahun. Setelah memperkenalkan diri, kami masih terpana akan cara mengajarnya. Maklum lah dikelasku semuanya adalah siswi. Sejujurnya, sejak pertama ia masuk ke kelasku aku menyukainya. Tapi karena aku pikir itu suka di awal saja, jadi aku acuh tak acuh.
Seminggu telah berlalu. Semua murid membicarakannya. Mulai dari matanya, bibirnya, bentuk wajahnya, sampai-sampai aku mau muntah mendengar setiap kata-kata hiperbola itu. Aku duduk manis dibangku ku sambil mencorat-coret buku fisika yang sangat aku benci. Dan tiba saatnya jam pelajaran pak Adi. Menurutku dia memang menjelaskannya dengan santai dan sabar. Aku heran, kenapa hanya di jam pak Adi semua hening dan damai? tak seperti biasanya. Ketika aku melihat sekeliling, mata dari siswi di kelasku berbinar layaknya ada bintang di kedua bola matanya. Aku hanya bisa memukul jidatku di meja.
2 bulan telah terlewati. Kelasku yang dulu di cap menjadi kelas terbandel sudah hilang. Tapi, mungkin bisa di cap menjadi kelas terganjen. Jujur saja, ada sedikit rasa cemburu didalam hati ketika melihat teman-temanku mendekati pak Adi. Tapi aku tetap acuh tak acuh. Aku juga merasakan ada yang berubah dalam diriku. Entah sejak kapan aku mulai bersahabat dengan buku-buku dirumah dan juga aku mulai sering mampir di toko buku ataupun kafe untuk sekedar membaca buku sambil meminum caffelatte. Waktu itu aku sedang nongkrong di kafe tempat biasa. Saat itu tak sengaja aku bertemu pak Adi di kafe yang sama. Dia datang menghampiriku.
"Acha, tumben kamu disini" sapa pak Adi kepadaku.
"Acha sudah biasa nongkrong disini pak" kataku.
"Boleh saya duduk disini, soalnya tempatnya sudah penuh" katanya.
Aku membalas dengan senyuman. Lalu sekilas aku melihat minuman yang dipesannya. Caffelatte sama seperti pesananku. Dari sanalah kami mulai berbincang-bincang. Mulai dari keluarga, kehidupannya dia saat masa-masa sekolah, bahkan sampai soal percintaan. Hujan turun pun tak terasa. hampir 1 jam kami berbicara tanpa memperhatikan sekitar. Tanpa kusadari, pak Adi meminta nomor teleponku dan entah aku sadar atau tidak aku memberikannya tanpa ada hambatan. Sesampainya dirumah, aku baru menyadari semua itu. Aku berlari kekamar dan berteriak tidak jelas ketika sebuah pesan masuk ke ponselku. Pesan dari pak Adi yang membuat aku melayang tinggi. Entah kenapa aku merasakan perasaan yang campur aduk seperti ini. Sampai-sampai malam tiba aku tidak bisa tidur karena ditemani dalam telepon olehnya.
Esoknya aku pergi ke sekolah dengan wajah berseri. Pas sekali saat itu ada jam pelajaran fisika. Aku jadi bersemangat belajar meskipun aku tidak menyukai pelajaran itu. Wajah pak Adi ketika mengobrol di kafe masih terngiang di pikiranku. Aku ingin cepat-cepat pulang kerumah agar bisa ditemani lagi.
Singkat cerita, sudah hampir 2 bulan aku dan pak Adi dekat layaknya gebetan. kami sering bertemu di kafe kadang-kadang juga di tempat lain. Hingga akhirnya hubungan itu pun ada diantara kami. Tapi kami masih menyembunyikannya, karena kami tau ini semua sangat mustahil. Satu tahun berjalan dengan lancar, tanpa satu orang pun yang mengetahuinya. Hingga suatu hari ada seorang temanku yang mengetahuinya. Dia merasa sakit hati karena pak Adi milikku. Perbuatan ini ingin ia laporkan kepada kepala sekolah. Aku mencegahnya, ia berusaha kabur dari kejaranku. Aku dan dia saling kejar-kejaran di lorong, menabrak setiap orang di lorong.
"Cantika, tunggu !!!" seruku dibelakangnya.
Akhirnya aku berhasil menarik lengan bajunya. Dan pengejaranku berakhir di sebuah ruangan yang jaraknya tidak jauh dari kantor kepala sekolah.
"Cantika, aku mohon. Jangan laporkan aku" kataku memelas padanya.
"Acha, apa kamu tahu bagaimana perasaanku pada pak Adi? Aku menyukainya! Bahkan aku mencintainya! Aku mengangguminya! Aku berusaha menajdi perempuan yang sempurna didepannya, tapi dia lebih memilihmu! Aku kecewa!" jeritnya di depan wajahku.
Aku meneteskan air mata.
"Cantika, kamu memang mencintainya. Aku akui cintamu kepadanya jauh lebih besar dariku. Tapi bisakah kamu merasakan posisiku? Aku tau ini benar-benar terlarang antara guru dan murid. Tapi bisakah kamu tau bagaimana rasanya mencintai seseorang? Kamu pasti akan melakukan apa saja demi dia, aku tahu itu" kataku sambil menangis.
Cantika hanya terdiam, dan pak Adi tiba-tiba datang dari dibelakang. Pak Adi menarikku. Aku bisa melihat wajah kebencian dari Cantika, tapi kemudian kusadari ia menangis melihatku pergi bersama pak Adi. Aku dan pak Adi pergi ke gudang belakang. di gudang itu sepi jadi aku tidak khawatir akan kedatangan orang.
"Kamu kenapa menangis dihadapan orang yang tidak berperasaan itu?! Aku malu melihat kamu seperti itu" katanya.
Aku hanya terdiam.
"Aku sudah pikirkan baik-baik. Demi hubungan kita dan juga kenyamananku. Aku sebenarnya tidak nyaman disini, karena banyak peraturan yang tidak aku suka. Jadi aku putuskan nesok untuk pindah kerja. Aku bisa kerja dimana saja, jadi kamu tidak usah khawatir. Aku mohon sama kamu jangan lakukan hal seperti itu lagi" katanya.
Lalu ia memelukku erat. Aku menangis kencang dipelukkannya. Dia mengelus rambutku. Mungkin ini adalah kabar terbaik untukku, tapi sekaligus juga yang terburuk. Mungkin sudah tidak ada lagi wajahnya yg melintas di jendela. Tidak ada lagi wajahnya yang sedang mengajarku. Tapi aku rasa ini yang terbaik.
Esoknya, pak Adi pergi ke kantor kepala seolah dan memberikan surat pengunduran diri. 1 kelas bersedih karena kepergiannya. Begitu pula Cantika. Sejak pagi ia tak kelihatan bersemangat. Aku ikut sedih, tapi mau bagaimana lagi. Aku dan pak Adi masih tetap bersama, meskipun sudah tak 1 sekolah lagi. Meskipun kami sudah tak saling memandang dikelas, saling tanya jawab dan lain-lain, aku tetap masih bisa melihatnya di tempat lain.
Tiba saatnya aku masuk ke universitas. Aku dan teman-temanku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Aku juga mendapatkan universitas dengan jurusan yang aku inginkan. Kini kami sudah tak terikat apapun. Kami sudah mulai mempublikasikannya ke semua orang. Kami sering jalan bersama diantara kerumunan orang. Cantika kini sudah membaik. Ia mendapatkan seseorang yang lebih baik dari pak Adi. Aku turut bahagia atas bahagianya.
Setelah lulus, aku mendapatkan tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan swasta. Gajinya lumayan untuk membahagiakan orang tuaku. Setelah sekian lama aku dan pak Adi bersama, akhirnya ia melamarku didepan orangtuaku. Tentu saja aku menerimanya. Terpaut usia 10 tahun, tidak menjadi masalah dalam hubungan kami. Sekarang genap sudah usia pernikahan ke 5. Aku dan dia dikaruniai 2 orang anak. Kami hidup sangat berkecukupan. Aku dan dia bukan lagi pasangan murid dan guru. Aku juga tidak memanggilnya pak Adi lagi. Tapi panggilanku kepadanya kini menjadi Mas Adi.
Esoknya, pak Adi pergi ke kantor kepala seolah dan memberikan surat pengunduran diri. 1 kelas bersedih karena kepergiannya. Begitu pula Cantika. Sejak pagi ia tak kelihatan bersemangat. Aku ikut sedih, tapi mau bagaimana lagi. Aku dan pak Adi masih tetap bersama, meskipun sudah tak 1 sekolah lagi. Meskipun kami sudah tak saling memandang dikelas, saling tanya jawab dan lain-lain, aku tetap masih bisa melihatnya di tempat lain.
Tiba saatnya aku masuk ke universitas. Aku dan teman-temanku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Aku juga mendapatkan universitas dengan jurusan yang aku inginkan. Kini kami sudah tak terikat apapun. Kami sudah mulai mempublikasikannya ke semua orang. Kami sering jalan bersama diantara kerumunan orang. Cantika kini sudah membaik. Ia mendapatkan seseorang yang lebih baik dari pak Adi. Aku turut bahagia atas bahagianya.
Setelah lulus, aku mendapatkan tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan swasta. Gajinya lumayan untuk membahagiakan orang tuaku. Setelah sekian lama aku dan pak Adi bersama, akhirnya ia melamarku didepan orangtuaku. Tentu saja aku menerimanya. Terpaut usia 10 tahun, tidak menjadi masalah dalam hubungan kami. Sekarang genap sudah usia pernikahan ke 5. Aku dan dia dikaruniai 2 orang anak. Kami hidup sangat berkecukupan. Aku dan dia bukan lagi pasangan murid dan guru. Aku juga tidak memanggilnya pak Adi lagi. Tapi panggilanku kepadanya kini menjadi Mas Adi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar